Selasa, 08 Februari 2011

JARH DAN TA’DIL

PENGERTIAN JARH DAN TA’DIL
 
Secara etimologi, kata الجرح  merupakan masdar dari kata جرح – يجرح  yang berarti melukai. Apabila terjadi pada tubuh, ia menyebabkan mengalirkannya darah, dan apabila digunakan oleh hakim pengadilan yang ditujukan kepada saksi, berarti ia menolak atau menggugurkan kesaksiannya.[1] Sedangkan menurut terminologi ilmu hadis, kata al-jarh berarti upaya mengungkap sifat-sifat tercela dari periwayat hadis yang menyebabkan lemah atau tertolakya riwayat yang disampaikan[2].

Adapun kata التعديل   adalah masdar dari kata عدل – يعدل  , yang berarti mengemukakan sifat – sifat adil yang dimiliki seseorang[3]. Dalam terminology ilmi hadis, kata at-ta’dil berarti upaya mengungkap sifat-sifat bersih dari seorang periwayat hadis sehingga nampak keadilan (adalah) –nya yang menyebabkan diterimanya riwayat yang disampaikan[4].

Dengan demikian yang dimaksud ilmu jarh dan ta’dil ialah pengetahuan yang membahas tentang kaedah periwayat-periwayat hadis, baik mengenai cacatnya ataupun kebersihannya dengan menggunakan lafaz-lafaz tertentu dan peringkat lafaz-lafaz tersebut sehingga diterima atau ditolak riwayatnya[5].

PENETAPAN SYARIAT TENTANG JARH DAN TA’DIL 

Bagi sebagian orang yang tidak memahami tujuan dan maksud dilakukannya jarh dan ta’dil oleh ulama ahli kritik hadis, perbuatan itu dianggap sebagai perbuatan yang tercela. Padahal bagi kritik hadis, penelitian tentang keadaan periwayat-periwayat hadis dengan membersihkan orang-orang yang adil dan mencacat orang-orang yang cacat, merupakan sikap hati-hati dalam urusan agama untuk menjaga undang-undangnya, membedakan kelak kekeliruan dan kesalahan yang terjadi pada sumber asal yang menjadi bangunan islam dan azas syariat. Mereka tidak bermaksud mencela manusia, mengumpat, dan memfitnah. Tetapi mereka sekedar menerangkan kelemahan orang-orang yang lemah untuk diketahui sehingga dapat dihindari periwayatan dan pengambilan hadis darinya[6]. Menerangkan keadaan periwayat-periwayat adalah jalan yang tepat untuk memelihara sunnah[7]. Alquran menyatakan

 : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ الحجرات 6
Pada tempat lain alquran menyatakan :

وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِأَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَإِحْدَاهُمَا الأخْرَى
Penyampaian dan periwayatan hadis bukan sesuatu perkara yang kecil ketimbang persaksian. Oleh karena itu tidaklah diterima sesuatu hadis kecuali dari orangorang terpecaya (sigot). Karena kesaksian (syahadah) dalam urusan agama lebih utama dan lebih berhak untuk dikukuhkan dari pada kesaksian dalam urusan harta benda dan hak-hak manusia[8].

Dalam hal ta’dil nabi bersabda : نعم عبد الله خالدبن الولد سيف من سيوف الله   dan juga : ان عبد الله رجل صالح  [9]. Sedangkan dalam hal jarh beliau bersabda : نئس أخوالعشيرة [10].

Oleh karena itu, menurut imam Nawawi, jarh dan ta’dil sebagai upaya pemeliharaan syariat bukanlah gibah, fitnah dan umpatan. Tetapi merupakan nasehat karena Allah, Rasul dan kaum muslimin. Oleh karena itu hukumnya boleh, bukan secara sepakat dihukumi sebagai kewajiban[11].

SEJARAN PERKEMBANGAN JARH DAN TA’DIL

 Kegiatan kritik hadis sebagai upaya untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, yang maqbul dan yang mardud, telah dimulai sejak masa Nabi. Tetapi pada waktu itu hanya terbatas pada kritik matan(al-naqd al-dakhili) dengan cara mengkonfirmasikan apa yang telah diterima sahabat dari sahabat yang lain kepada Nabi untuk membuktikan bahwa apa yan diterimanya itu benar dari beliau. Atau dengan cara membandingkan dengan hadis Nabi yang lain atau dengan ayat alquran[12]. Kemudian pada masa sahabat, kegiatan kritik hadis tidak hanya terbatas pada matan saja, tetapi sudah mulai kepada kritik sanad hadis (al-naqd al-khariji)[13]. Di antara sahabat yang merintis kritik terhadap sanad hadis adalah Abu Bakar, Umar ibn Khattab, Ali ibn Abi Talib, Aisyah, Abdullah ibn Umar[14]. Juga ibn Abbas dan Ubadaj ibn Samid[15]. Kritik terhadap hadis ini terutama setelah terjadinya al-fitnah al-kubra (bencana besar) dengan terbunuhnya khalifah Usman ibn Affan (61 H) dan peperangan antara Ali dan Muawiyah yang menimbulkan perpecahan dikalangan kaum muslimin. Pada masa inilah mulai dilaksanakannya aza-aza dan kaedah-kaedah ilmu jarh sebagai ilmu yang membahas tentang kritik hadis dari sanadnya. Dalam hal ini ibn Sirin mengatakan bahwa pada mulanya kaum muslimin tidak menyatakan tentang isnad. Namun setelah terjadi fitnah tersebut, maka selalu mempertanyakan para periwayat hadis yang mereka terima[16].

Sikap kritis para sahabat dalam meriwayatkan hadis dilanjutkan oleh kalangan tabi’in. di antara mereka yang ahli dalam bidang kritik hadis dapat disebutkan seperti Said ibn Musayyab (w. 936 H) Amir al Sya’bi (w. 103 H), Muhammad ibn Sirin (w. 100 H), juga ulama generasi berikutnya seperti syu’bah ibn Hajjaj (82 – 160 H), al-Awza’I (88-158 H), Malik ibn Anas (93-179 H), Yahya ibn Sa’id al Quttan (w. 198 H), dan Abdurrahman ibn al-Mahdi (135-198 H). Orang pertama yang menghimpun pembicaraannya mengenai jarh dan ta’dil adalah Yahya ibn Said al-Qattan[17]. Pada abad kedua hijriah ini, ilmu jarh dan ta’dil belum dibukukan, tetapi baru merupakan penyempurnaan dari azas dan dasar yang telah diletakkan pada masa sebelumnya.

Para ulama diatas selanjutnya menghasilkan sejumlah besar murid yang ahli dalam bidang kritik hadis. Di atara mereka yang terkenala adalah Yahya ibn Ma’in (w. 223 H), murid dari Yahya ibn Said al-Qattan, Ali ibn al-Madini (w. 234 H), Ahmad ibn Hambal (w 241 H), kemudian muncul pula para ahli kritik hadis yang terkenal, diantaranya Muhammad ibn Ismail al-Bukhari (194-256 H), Abu Zurah Abidullah ibn Abd al-Karim al-Razi (200-206 H), Abu Hatim Muhammad ibn Idris al-Razi (240-377 H), [18] dan lain-lain. Pada abad ketiga hijriah inilah muncilnya kitab-kitab yang secara khusus membicarakan jarh dan ta’dil, seperti Ma’rifat al-Rijal, karya yahya ibn Ma’in, al-Tarikh al-kabir, karya imam Bukhari, dan Kitab al Jarh wa al Ta’dil karya Abu Hatim al-Razi.

PENDAPAT ULAMA SALAF

Untuk mengetahui pendapat ulama salaf mengenai jarh dan ta’dil, akan dikemukakan pendapat imam Syafi’I (150-204 H) dan Abu Hatim al-Razi (240-327 H). Menurut Imam Syafi’I bahwa suatu hadis ahad tidak bisa dijadikan hujjah, kecuali memenuhi keriteria sebagai berikut: orang yang meriwayatkannya siqot (terpecaya) dalam beragama terkenal jujur perkataannya, memahami apa yangt diceritakannya, mengetahui lafaz-lafaz yang bisa merubah makna hadis, harus hafal jika meriwayatkan dengan hafalannya, dan terpelihara kitabnya (dari kesalahan) juika ia meriwayatkannya dari kitab[19]. Dalam hal ini, imam syafi’I sebagai ahli usul al-fiqih, secara tegas telah menetapken keriteria periwayat hadis ahad, yang dapat dijadikan sebagai hujjah, yang hanya dapat diketahui melalui kegiatan jarh dan ta’dil.

Mengenai hal sama, Abu Hati al-Razi menyatakan bahwa ketika kita tidak menemukan jalan untuk mengetahui makna kitab alquran dan sunnah Rasulullah kecuali dengan jalan periwayatan, maka kita wajib meneliti para periwayat hadis sehingga dapat dibedakan antara periwayat-periwayat yang adil, sehingga periwayatnya dapat dijadikan pegangan dan sandaran dalam menetapkan hukumdan persoalan-persoalan agama lainnya, dan untuk mengetahui periwayat-periwayat yang cacat, sehingga dapat diketahui keadaan dan segi-segi periwayatannya, untuk digugurkan hadis periwayat yang wajib digugurkan hadisnya sehingga diabaikan dan tidak diamalkan, untuk ditulis hadis periwayat yang wajib ditulis hadisnya sebagai pertimbangan, yaitu hadis-hadis mereka yang bernilai sastra indah, nasehat-nasehat kebajikan dan kasih saying, serta kabar gembira dari ancaman[20].

TELAAH KITAB JARH DAN TA’DIL

Usaha para ulam ahli hadis yang telah mulai dirintis oleh para sahabat dalam menilai para periwayat hadis, baik mengenai kualitas pribadi maupu kapasitas intelektual mereka telah dibukukan oleh para murid mereka bersamaan dengan upaya pembukuan ilmu-ilmu syariat yang lain, sehingga menghasilkan beberapa kitab yang menjadi titi tolak bagi karya-karya besar dalam bidang yang sama, yang muncul kemudian.

Dalam menyusun kitab jarh dan ta’dil, para ulama berbeda mengenai isinya, ada yang sederhana dan ada pula yang luas. Kitab yang paling sederhana hanya terdiri dari satu jilid dan memuat puluhan ribu periwayat hadis. Demikian mengenai metode penyusunannya, ada yang menerangkan kedaan periwayat secara umum, baik yang siqat maupun yang daif, ada yang hanya menerangkan keadaan periwayat yang siqat saja dan ada pula yang hanya menerangkan keadaan periwayat yang daif dan dusta dengan menyebutkan pula hadis-hadis uyang maudu’.

A. Kitab Jarh dan Ta’dil Secara Umum.
Kitab-kitab yang termasuk kategori ini adalah kitab-kitab yang menerangkan keadaan periwayat hadis secara umum, baik yang siqat maupun yang daif. Diantaranya:

1. Al-Tarikh al-Kabir
Kitab ini adalah karya Imam Bukhari (194-256 H) yang disusun dalam bentuk yang besar, memuat 12.305 periwayat hadis. Kitab ini disusun berdasarkan urutan huruf mu’jam dengan memperhatikan huruf pertama dari nama periwayat dan nama bapaknya. Imam Bukhari memulai pembahasannya dengan menyebutkan nama-nama Muhammad, karena nama Nabi Muhammad saw, seperti halnya beliau mendahulukan nama-nama sahabat dalam setiap nama periwayat tanpa memperhatikan nama bapaknya. Kemudian baru menyebutkan seluruh nama periwayat dengan memperhatikan urutan nama bapaknya[21].
Selain itu Imam Bukhari juga menyebutkan istilah-istilah jarh dan ta’dil. Pada istilah jarh, ia memakai istilah yang halus seperti : فيه نظر   atau سكتوا عنه   sedangkan istilah yang lebih keras adalah : منكر الحديث  istilahفلان فيه نظر   atau فلان سكتوا عنه  dipakai untuk periwayat yang ditangguhkan hadisnya[22]. Sedangkan istilah فلان منكر الحديث   dipakai terhadap periwayat yang tidak boleh diriwayatkan hadisnya[23]. Jika Imam Bukhari dari seseorang dan tidak menilai siqat atau daifnya, berarti beliau menilai siqat[24].

2. Kitab al-Jarh wa al-Ta’dil
Kitab ini adalah karya Abu Hatim Muhammad ibn Idris al-Razi (240-327 H), merupakan kitab jarh dan ta’dil dari ulama mutaqoddimin yang banyak isinya, memuat 18.050 periwayat hadis, terdiri dari atas delapan jilid beserta muqoddimahnya[25].

Dalam kitab ini, biografi periwayatan hadis ditulis secara singkat, hanya mencapai satu sampai lima belas baris dan disusun berdasrkan huruf hijaiyah dengan memperhatikan huruf pertama dari nama periwayat dan nama bapaknya. Dimulai dari nama-nama sahabat pada tiap satu huruf dan nama-nama yang diulang-ulang, serta disebutkan pula nama kunyah dan nisbatnya, Negara asal, tempat tinggal, aqidah serta kadang-kadang siebutkan juga atahun wafatnya. Sedikit sekali dikemukakan hadis yang diriwayatkannya.

B. Kitab Jarh dan Ta’dil Mengenal Periwayat-periwayat Siqat
Kitab-kitab dalam kata gori ini hanya membicarakan biografi periwayat-periwayat siqat dan tidak membicarakan yang lain. Di antara kitab yang terkenal adalah:

1. Kitan al-Siqat
Kitab ini adalah karya Muhammad ibn Ahmad ibn Hibban al-Busti (w. 354 H), yang disusun berdasarkan tabaqat (tingkatan) sesuai dengan huruf hijaiyah, dalam tabaqat itu dan disajikan dalam tiga juz, juz pertama untuk tabaqat sahabat, juz kedua untuk tabaqat tabi’in dan juz ketiga untuk tabaqat ‘atba’ tabi’in[26].

Menurut al-Kattani[27], dalam kitab ini ib Hibban banyak menyebutkan periwayat yang majhul yang hanya dikenal keadaannya. Dan penilaian siqatnya yang hanya tersebut dalam kitab ini menempati urutan yang paling rendah. Karena menurutnya, adil adalah orang yang tidak diketahui cactnya, karena cacat adalah kebalikan dari adil. Orang yang tidak diketahui cacatnya adalah adil sampai diketahui cacatnya.

2. Tarikh Asma’al al-Siqat min Man Nuqila Anhu al-Ilm
Kitab ini disusun oleh Umar ubn Hamad ibn Syahin (w. 385 H), berdasarkan urutan huruf mu’jam dengan hanya menyebutkan nama periwayat dan nama bapaknya, serta pendapat ahli jarh dan ta’dil mengenai periwayatan itu. Kadang-kadang juga disebutkan sebagian guru dan muridnya[28].

C. Kitab Jarh dan Ta’dil Mengenai Periwayatan Daif
Kitab ini hanya menbicarakan periwayat-periwayat daif dan mencakup seluruh periwayat yang masih dibicarakan kualitasnya, meskipun tidak terlalu daif dan tidak terlalu banyak jumlah yang mesih dibicarakan. Di antara kitab-kitab itu adalah:

1. al-du’afa’ al-Kabir dan al-Du’afa’ al-Sagir
Kedua kitab ini karya Imam Bukhari yang termasuk kitab jarh dan ta’dil paling tua yang sampai kepada kita[29]. Kitab ini berdasarkan urutan huruf mu’jam dengan hanya memperhatikan huruf pertama pada setiap nama periwayat.

2. al-Du’afa’ wa al-Matrukin
Kitab ini karya Imam al-Nasa’i (215-303 H.), disusun berdasarkan ururtan huruf mu’jam dengan hanya memperhatikan huruf pertama pada setiap nama periwayat.

3. Ma’rifat a’-Majruhin min al-Muhaddisin
Kitab ini karya ibn Hibban yang disusun berdasarkan urutan huruf mu’jam, diawali dengan muqoddimah kitab yang berisi tentang pentingnya mengetahui periwayat daif, bolehnya menilai cacatnya periwayat, dan yang berhubungan dengan hal itu.

4. al-Kamil fi Du’afa’ al-Rijal
Kitab ini karya Imam Abu Ahmad Abdullah ibn Adi al-Jurjani (w. 356 H), merupakan kitab yang besar dan luas, memuat biografi periwayat yang masih dibicarakan kualitasnya, meski menurut pendapat yang tertolak. Kitab ini disusun berdasarkan urutan huruf mu’jam serta dimulai dengan muqaddimah kitab yang panjang lebar.

5. Mizan al-Itidal fi Naqd al-Rijal
Kitab ini karya Abu Abdullah Muhammad Ibnu Ahmad ibn Usman Al-zahabi (w. 748 H). Sebagaimana dikatakan ibn Hajar[30] kitab ini menghimpun 11.053 biografi periwayat yang disusun berdasarkan urutan huruf mu’jam dengan memperhatikan nama periwayat dan bapaknya. Dalam kitab ini yang pertama disebut adalah nam periwayat yang dikenal dengan nama bapaknya, nisbat atau laqobnya, periwayat laki-laki yang tidak dikenel namanya, periwayat perempuan yang tidak dikenal nama aslinya,n nama kunyah perempuan, kemudian periwayat perempuan yang disebut nama aslinya.
  1. Lisan al-Mizan
Kitab ini karya Ibnu Hajar al-Asqalani yang disusun berdasarkan urutan huruf mu’jam yang dimulai dari nama asli, nam kunyah, kemudian periwayat yang mubham, yang terbagi menjadi tiga pasal, pasal pertama tentang periwayat yang menguunakan nasab, kedua periwayat yang terkenal dengan nama kabilah atau pekerjaannya, dan ketiga tentang periwayat yang berdasarkan pada nama lain[31].

PROBLEMATIKA JARH DAN TA’DIL DALAM KITAB JIRAH DAN ALTERNATIF PEMECAHANNYA

A. Perbedaan Pendapat Ulama Ahli Kritik Hadist Dalam menetapkan Pembagian Peringkat dan Penggunaan Lafat Jarh dan Ta’dil

Untuk peringkat pertama lafat ta’dil menurut al-razi menggunakan lafat ثقة atau متقن bagi periwayat yang dijadikan hujjah hadistnya. Dalam peringkat ini, Ibnu al-Salah menambahkan lafat ضابط, حافظ, حجة, ثبت sedangkan Al-nawawi menggunakan lafat حافظ, عدل, ضابط, حجة, ثبت Untuk peringkat kedua, baik al-razi, Ibnu al-Salah, maupun Nawawi menggunakan lafat لابأس به, محله الصدق, صدوق bagi periwayat yang hadistnya ditulis dan diperhatikan (sebagai hujjah). Pada peringkat ketiga, al – razi dan Ibn al – Salah menggunakan lafadz شيخ , sedangkan al – Nawawi menggunakan lafadz مقارب الحديث, روى عنه النا س, وسط,  bagi periwayat yang ditulis dan diperhatikan hadistnya, namun dibawah tingkat kedua sedangkan peringkat keempat, bagi al – razi ibn Al- Salah maupun Al – Nawawi sama-sama menggunakan lafadz صا لح الحديث, sekalipun ada beberapa tambahan lafadz ta’dil, yaitu pada peringkat pertama oleh Ibn Al – Salah dan peringkat pertama dan ketiga oleh Al – Nawawi, tetapi tidak terdapat lafadz yang sama pada peringkat yang berbeda.

B. Perbedaan Pendapat Ulama’ Ahli Kritik Hadist Dalam Menilai Kualitas Periwayat Tertentu.

Para ulama’ ahli kritik Hadist adakalanya sependapat dalam menilai kualitas pribadi dan kapasitas intelektual periwayat hadist tertentu dan adakalanya mereka berbeda pendapat. Misalanya Ahmad ibn Al – Miqdam Ibn Sulaiaman Al- Ijli oleh Abu Hatim Al- Razi dan Al – Nasa’I dinilai sebagai periwayat yang Siqot. Tetapi Abu Dawud berkata tentang Dia: ” Saya tidak meriwayatkan Hadist darinya karena dia dikenal suka kelakar “. [32] selain itu, adakalanya seorang ahli kritik Hadist berbeda dalam menilai periwayat terntentu. Misalnya Yahya Ibn Ma’in ketika ditanya kualitas periwayat Hadist yang bernama Al – A’la Ibn ‘ Abd Al-Rahman, ia menjwab bahawa Al-A’la itu  ليس به بأس, tetapi Yahya ditanya nama yang lebih tinggi kualitasnya antara Al-A’la dan Sa’id Al-Muqbiri, ia menjawab bahwa Sa’id lebih Siqot daripada Al-A’la, Al-A’la itu da’if.[33] Dalam hal ini, Yahya menilai Al-A’la sebagai periwayat yang do’if, ketika dibandingkan dengan Sa’id Al-Muqbiri, sedangkan ketika tidak diperbandingkan Yahya menilainya sebagai periwayat yang ليس به بأس. Padahal kedua lafadz itu mempunyai pengertian dan peringkat yang berbeda. Lafadz dlo’if berada pada peringkat jarh, sedangkan lafadz ليس به بأس berada pada peringkat ta’dil.
 
Untuk menghadapi kasus-kasus seperti diatas, ulama’ ahli kritik hadist telah mengemukakan beberapa teori sebagai alternative pemecahnya. Diantara teori tersebut adalah:

1. التعديل مقدم على الجرح  kritik yang berisi pujian terhadap periwayat hadist didahulukan dari kritik yang berisi celaan. Teori ini berlaku jika sifat dasar periwayat hadist adalah terpuji, sedangkan sifat tercela merupakan sifat yang dating kemudian.

2. مقدم على التعديل  الجرح kritik yang berisi celaan terhadap periwayat hadist didahulukan dari kritik hadist yang berisi pujian. Teori ini berlaku jika ahli kritik yang menyatkan celaan lebih paham terhadap periwayat yang dicelanya daripada ulama’ yang memujinya, serta yang dijadikan dasar oleh ulama’ yang memujinya hanya persangkaan baik semata.

3. يقدم الجرح على التعديل  kritik yang berisi celaan didahulukan daripada kritik yang berisi pujian dengan syarat-syarat sebagai berikut: a) ulama’ yang mencacat telah dikenal benar-benar mengetahui pribadi periwayat yang dikritik. b) celaan yang dikemukakan harus didasarkan pada argument-argumen yang kuat, yakni dijelaskan sebab yang menjadikan periwayat yang bersangkutan tercela kualitasnya. [34]

C. Tidak Ada Penjelasan Sebab-Sebab Jarh

Ketika jumhur ulama hadist mensyaratkan untuk menerangkan sebab dilakukannya Jarh,[35] maka muncullah problem yang dihadapi oleh setiap orang yang mendalami hadist. Problem itu berpangkal pada fenomena pada kitab-kitab jarh wat ta’dil yang disusun oleh ulama ahli kritik hadist sangat jarang menjelasakan sebab-sebab jarh. Mereka sekedar menyatakan فلان ضعيف, فلان ليس بشئ,[36] dan sebagainya, sehingga syarat harus dijelaskannya sebab-sebab jarh terabaikan. Sementara orang-orang generasi belakangan hanya berpegang pada kitab-kitab tersebut dalam melakukan Jarh dan Ta’dil terhadapa para periwayat hadist.[37] Akibatnya, keteranga-keterangan yang ada dalam kitab jarh dan ta’dil itu tidak dapat dijadikan pegangan dan menutup kemungkinan dilakukannya penelitian lebih lanjut.

Untuk menjawab persoalan diatas, Ibn Al-Salah memberikan alternative solusi dengan mengatakan behwa neskipun demikian itu tidak kita perpegangi dalam menetapkan jarh dan menghukuminya, tetapi keterangan itu berguna untuk mengambil sikap tawaqquf(berdiam diri) dari menerima hadist mereka. Karma hal itu telah membuat kita sangat meragukan kualitas kepribadian dan kapasitas intelektual periwayat hadist tersebut, sehingga hadistnya wajib di diamkan. Tetapi para periwayat yang tidak kita ragukan lagi, setelah kita teliti keadaannya, dan menunjukkan siqat, maka hadistnya kita terima dan tidak kita diamkan lagi.[38]

BIBLIOGRAFI
Amin,  Ahmad. Duha al-islam. Jilid II. Cet. VIII. Kairo: al-Maktabah al-Nahdah al-Misriyah, 1974.
Al-Asqalani, syihab al-din abu al-fadl ahmad bin hajar. Nuzhat al-Nazar Syarah Nukhbat al-Fikr. Semarang : al-Maktabah al-Munawwar,t.th.
———.Lisan al-Mizan, Jilid I. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
Azami, Muhammad Musthaf. Studies in Hadith Methodology and literature. Diterjemahkan oleh A. Yamin dengan judul Metodologi Kritik Hadis. Cet. II. Bandung: Pustaka Hidayah, 19960.
Al-harawi, Abu Fa’id Muhammad bin Muhammad bin Ali. Jawahir al-Ushul Fi ‘ilm Hadist al-Rasul. Madinah: al-Maktabar al-’ilmiyah, 1373 H.
Al-Husain, Abu Lubabah. Al-Jarh wa al-Ta’dil. Riyad: Dar al-Liwa, 1979. Ibn Manzur, Muhammmad bin Mukarram. Lisan al-Arab. Juz I dan XIII. Mesir: al-Dar al-Misriyah, t. th.
Al-Iraqi, abd al- Rahim ibn husain. Al-taqyid wa al-ldah syah muqqodimah ibn al-salah. Madina: Al-Maktabar al-salahfiyah,1400 H.
Ismail, M. syuhudi. Kaedah kesahihan sanad hadis. Cet. 11. Jakarta: Bulan Bintang, 1995.
———-metodologi penelitian hadis nabi, Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
Itr,       Nur al- din, manhaj al-Naqd fi ulum al-hadis, Cet. III.Damaskus: Dar al-fikr,1992.
Al-jazari, Ibn al-Asir jami al-usul fi Ahadis al-rasul CET.II. Bairut: Dar al-fikr,1983.
Al-Katib, Muhammad Ajjaj. Usul al-hadis : Ulumuhu wa mustalahu. Bairut: Dar al-fikr.1989.
Al-Naisaburi, Abu Abdillah Al-hakim. Ma’rifat ulum Al-hadis.kairo: maktabar al-mutanabbit, t. th.
Al-Nawawi, Abu Zakariyah Yahya Bin Syaraf. al-taqrib li al-Nawawi fann Usul al-hadis.kairo: Abd al-rahman Muhammad, t.th.
———al-taqrib wa al-taysir li ma’rifat sunan al-basyir al-nazir. Ditaqiq oleh Muhammad usman, al-khasyt.Cet.I. t.t.: Dar,al-kutub al-Arabi, 1985.
Al-Qosimi, Muhammad jamaluddin. Qowa’id al- thadis fi funun Mustalah al-hadis. Bairut: Dar al-kutub al-llmiyah,t,th.
Rayyah, Mahmud Abu. Adwa ala al-sunah al-muhammadiyah.cet III. Mesir. Dar al-Ma’arif,t.th.
Al-Razi, Abu Muhammad Abd Rahman Ibn Abu Hatim Muhammad Ibn Idris Ibn Al-Munzir Al-Tamimi Al-Hinzali. Kitab Al-Jarh wa Al-Ta’dil. Jilid I.Cet. I. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, t. th..
Al-Sabag, Muhammad, Al-Hadist Al-Nabawi. t. tp. Al-Maktab Al-Islamiym, t.tp.
Al-Salih, Subhi.Ulum Al-Hadist wa Mustalahuhu. Beirut: Dar al-’ilm li Al-
Malayin,t. th.
Al –suyuti ,jalal al-Din Abd al –Rahman ibn Abi Bakar. Tadrib al-rawi fi Syarh
Taqrib al-Nawawi. Cet.I. Madinah; al-Maktabat al-ilmiyah, 1972.
———,Tadrib al- Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi. Cet. II. Madinah; al-Maktabah al-Islamiyah, t.th.
Al-Syafi’i, Muhammad ibn Idris. al-Risalah, Ditahqiq dan di syarah oleh Amad
Muhammad Syakir. Kairo; Maktabah al-Turas, 1979.
Al-Syahrazuri, Abu Amr Usman ibn Abd al – Rahman. Ulum al – Hadist. Madinah: al- Maktabah al – Ilmiyah, t. th.
Al – Syakhawi, Syams al –Din Muhammad ibn Abd Al – Rahman. Fath al – Mughis Syarh Alfiyat al – Hadist li al – Iraqi. Juz II. Cet. II. Madinah: al – Maktabat Al – Salafiyah, 1968.
——— Fath al – Mughis Syarh Alfiyat al – Hadist. Cet. I. Beirut: Dar al – Kutub al –Islamiyah, 1930.
Syakir, Ahmad Muhammad. Al – Ba’is al – Hasis Syarh Ikhtisar Ulum al – Hadist li al – Hafiz Ibn Kasi. Bairut: Dar al – Fikr, t. th.
Al – Tahhan, Mahmud. Usul al – Takhrij wa Dirasat al – Asanid. Cet. I. Halb: al – Matba’at al Arabiyah, 1978.
Al – Zahabi, Syamsuddin Muhammad ibn Abdurrahman ibn Muhammad. Mizan al – I’tidal fi Naqd al – Rijal. Jilid I. Beirut: Dar al – Fikr, t. th.

[1] Muhammad ibn Manzur, Lisan al-Arab, juz I (Mesir, al-Daral al-Misriyah, t,th),h, 246.
[2] Dlam hal ini sebagian ulama menyamakan penggunaan kata al-jarh dan al-tajrih, dan sebagian yang
lain membedakannya. Muhammad al-Sabag, al-Hadis al-Nabawi (t t, al-Maktab alIslami, t th) h,
143.
[3] Muhammad ibn Mukarram ibn Manzur, op, cit, juz XIII, h, 465.
[4] Muhammad Ajjaj al-Khatib, op,cit., h. 261,Nur al-Din “Itr, Loc, cit;
[5] Muhammad Ajjaj al-Khatib, Loc, cit; Abu Abdillah al-Hakim al-Nasaiburi, Ma’rifat Ulum al-Hadis
(Kairo, Muktabat al-Mutanabbi, t, th,) , h, 52.
[6] Ibn al-Asir al-Jazari Jami’ al usul fi ahadis al-Rusul (Cet, II, Bairut, Daral Fikr. 1983).
[8] Ibn al-Asir al-Jazari, loc, cit.
[9] Muhammad Ajjaj al-Katib, loc, cit.
[10] Ibid, Jalaluddin al-Syuti Tadrib al-Rawi fi syarh Taqrib al-Nawawi (Cet, II Madinah al-Maktabah
al-Islamiyah, t th), h, 367.
[11] Muhammad Jalaluddin al-Qasimi, Qaudid al-Tahdis fi funun Mustalah al Hadis (Bairut Dar Al
Kutub al- Ilmiyah , tth), h 188.
[12] Muhammad Mulstafa Azami, op, cit, h, 82.
[13] M. Syuhudi Ismail, Kaedah… op, cit, h, 96.
[14] Ibid, Muhammad Mustafa, Azami, op, cit, h, 83.
[15] Muhammad Abu Royyan, op, cit, h, 331.
[16] Muhammah Ajjaj al-Khatib, op, cit, h, 246
[17] Mahmuz Abu Royyan, op, cit, h, 331.
[18] Ibid Muhammad Ajjaj al-Katib, op, cit, h, 265.
[19] Muhammad Abu Royyan, op, cit, h 332, Muhammmad Al Sabag, op, cit, h 143.
[20] Muhammad ibn Hajjaj al-Khattib, lt, cit, Ahmad Amin Duha al-Islam jilid II (cetakan VIII Kairo)
[21] Muhammad al-Tahhan, op, cit, h, 176.
[22] Lihat Syamsuddin Muhammad ibn Abdurrahman ibn Muhammad al-Syakhawi Fath al-Mugis Syam Alfiyah al-Hadis (Cet, I, Bairut, Dar al-Khutub al-Islamiyah, 19930, h, 37)
[23] Lihat Syamsul Muhammad Abdurrahman ibn Muhammad al-Zahabi Mizan al I’tidal fi Naqd al Riyal, jilid I (Beirut, Dar al Fikirm, tth,), h, 4
[24] Muhammad al-Tahhah, loc, cit.
[25] Muhammad Ajjaj al-Khatib, op, cit, h, 178.
[26] Ibid, h, 199,
[27] Sebagaimana yang dikutip Mahmus al-Tahhan, ibid.
[28] Ibid, h. 200
[29] Muhammad Ajjaj al-Katib, op, cit, h. 278.
[30] Ibn Hajar, Lisan … op, cit, jilid I, h 203.
[31] Muhammad al-Tahhan, op, cit., h. 203.
[32] Muhammad Abu Royyah, op. cit., h. 333.
[33] Al-Sakhawi, op. cit., juz 1, h. 348.
[34] Ibnu Al – Salah,  op. cit., h. 99. M Syuhudi Isma’il, kaedah…, op. cit., h. 206.
[35] Ibnu Asir Al-Jazari, , op. cit., h. 127; Ahmad Muhammad Syakir, Al-Ba’is Al-Hasis Syarah ikhtishar Ulum al-hadist li al-hafiz ibn katsir (Bairut: Dar al-Fikr,t.th),h.89; Mahmud Al-tahhan, , op. cit.,h.161.
[36] Ahmad Muhammad syakir, loc. Cit, subhi al salih, Ulum al hadis wa mustalahuhu.(Bairut: Dal al’ilm al-malayin, t.th), h. 134; Muhammad Jamaluddin al-Qasami, op. cit., h. 199.
[37] Ibid.
[38] Ibn Al-Salah , op. cit., h. 96.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar